Manusia diciptakan sangat sempurna, dengan dikaruniai ‘otak’ untuk berpikir, serta diperlengkapi ‘budi-luhur’ sebagai pengarah jiwa manusia, beserta ‘nurani’ sebagai ’mata-hati’ manusia ; satu paket yang sempurna dan tak terpisahkan. Itulah harkat dan hakikat utama yang membedakan antara manusia dengan ciptaanNya yang lain.
Dengan diberi otak untuk berpikir, artinya bahwa manusia diberi kewenangan yang luas untuk menentukan dirinya sendiri berbuat sesuai pemikirannya. Namun harus kita sadari dan pahami, bahwa logika pemikiran yang benar/sehat adalah hasil perpaduan antara ‘pikiran, budi-luhur dan nurani’. Bukan hanya pikiran saja.
Manusia diciptakan oleh Sang Pencipta tentunya dikehendaki, “ansich” hanya sebagai takdirNya, ‘manusia’ ; bukan sebagai Nabi atau Rasul yang memang telah ditakdirkanNya sangat khusus. Bukan sebagai Malaikat. Bukan sebagai Jin. Juga tentunya bukan sebagai binatang.
Pengertiannya, kita harus menjadi sesuai hakiki kita, ‘manusia’. Menjadi seorang manusia seperti kehendak Allah Sang Pencipta dan sesuai tuntunanNya ; segala perbuatan atau tindakan selalu dilandasi pemikiran berdasarkan logika yang sehat ; logika yang benar, bukan logika semu yang picik yang pada dasarnya adalah pembohongan yang menyesatkan atau menjungkir-balikkan logika yang benar, dengan tanpa menyertakan atau mencampakkan budi luhur dan nurani.
Salam,
Hartanto Boechori-2003.


Tinggalkan Balasan